“Eh, Yin gimana nih?, lulus ga?”
“Lulus dong... oh iya, kamu dikelas X berapa?, kalo aku di kelas X.1”
“Kalo aku sih di kelas X.5. Baru kali ini kita pisah kelas ya?”
“Iya. Aneh juga ya rasanya. Tapi semoga ini ga meregangkan persahabatan kita ya San...!”
“Otomatiiis!, Ga ada yang bisa misahin persahabatan kita. Janji?”
“Janji!”, aku mengatakannya dengan yakin.
Aku dan Santi sudah bersahabat sejak SMP. Ia adalah sahabat yang sangat aku percayai. Hanya dengannya aku membagi keluh kesahku. Adalah suatu kebahagiaan bisa bersahabat dengannya. Dia adalah sahabat yang paling pengertian. Dia juga punya nama spesial buat aku, Ayin. Hanya dia yang aku bolehin manggil aku dengan sebutan itu.
*****
“Hai San...dari tadi aku nungguin kamu lho!, ngantin yuuk!”
“Siapa takut!. Aku juga dah laper banget nih. Sori ya dah buat kamu nunggu. Tadi aku ada keperluan ma Lulu cs, teman sekelasku. Jadi agak lama deh...!”
“Halah!, sok sungkan!, ga pa-pa lagi, San. Nyante ajah”
“Gimana?, kenalanmu di kelas udah banyak blon?”
“Ya...lumayanlah. Tapi ga sebanyak temanmu. Oh iya, aku punya satu teman di kelas, cantik dan ramah sih. Tapi aku ga suka ma dia.”
“Lho mang napa, Yin?”
“Dia aneh. Dia sih sering ngajak aku ngobrol. Tapi aku selalu ngehindar. Pokoknya, aku ga suka ma dia. Bawel!!”
“Ya udahlah Yin, gak usah emosi gitu kalee!”
*****
“Itu kan Santi. Jalan sama siapa ya dia?”
“Santi...!!, San...!!!”, Aku berteriak sekeras mungkin dan akhirnya usahaku tidak sisa-sia.
“Kamu ngapain di sini Rin?. Jalan ke Mall kok sendirian. Ga da yang mo nemenin yah?, kaciaaaan.... gaul dikit napa?”
Rin?, dia manggil aku dengan sebutan “Rin”?. Akh!, pasti aku salah dengar. Tapi bahasa itu... terlalu pahit rasanya.“San, kamu apa-apaan sih?, ngomongnya kok gitu amat?, kamu gak sakit kan?”
Aku mencoba mengoreksinya dengan setengah berbisik. Sulit ku percaya memang kalo yang barusan mengeluarkan bahasa sesinis itu adalah Santi. Sahabatku yang aku cintai dengan sangat.
“Napa?, kamu takut ya kedengaran ma yang laen?. Argh!, udahlah Rin. Aku dah capek tau gak?. Capek banget temenan ma kamu akhir-akhir ini. Kamu tuh kaku saat kamu dapet temen barumu yang dulunya kamu bilang kamu gak suka itu. Buktinya mana?, kamu gak setia kawan, Rin. Aku kecewa ma kamu!, kayaknya terlalu sulit bagiku untuk temenan lagi ma kamu. Sori!, kita dah gak cocok!! .... yuuk! Mending kita jalan lagi. Aku muak di sini”.
Santi menggandeng temen-temen barunya yang sejak tadi hanya mampu terdiam melihat arogansi yang dilakoni oleh sahabatku, bagian dari hidupku, Santi. Allah... aku masih tetap menyayanginya. Ingin sekali aku memeluknya erat. Hahhh...! Hampir 2 menit kedua kaki ini tak bisa ku gerakkan dengan nafasku yang terasa begitu sesak memenuhi dada. Santi, aku tak siap kehilanganmu...
*****
“Assalamualaikum Rin!”
“Wa alaikum salam. Eh, Nita!”
“Jam istirahat kok bengong! Ga ngantin nich sama sahabatmu, si....”
“Santi?!”
“yup!”
”Aku kayaknya telah kehilangan dia. Ga akan ada lagi tempatku tuk mengadu segala keluh kesahku.” Huaa...huaaa...!.
“Nih!”, sambil menyodorkan tissue ke arahku.
“Ga usah sesedih itu. Blon tentu juga kamu kehilangan dia. Calm down lah”
“Makasih Nit. Kamu baik sekali. Padahal selama ini aku banyak jahatin kamu lho...!”
“Iya. Ga pa-palah. Tapi Rin...kenapa jadi tiba-tiba gitu?, yang aku tahu nih ya, hubungan kalian selama ini ayem-ayem aja kok. Kok jadi tiba-tiba kaya kucing dan tikus gitu sih, Rin?. Tapi ingat satu hal Rin, sebaik-baik tempat tuk mengadu itu hanya sama Allah lho. Jadi kamu ga boleh tergantung ama orang laen gitu...!”
“Maafin aku ya Nit. Dah banyak buat kamu susah.”
“Yap...sama-samalah. Kitakan temen :-)”
*****
Selanjutnya hari-hariku banyak ku habiskan bersama Nita. Entah apa yang ada di pikiranku. Setiap penjelasan dan argumentasi yang meluncur tajam dari mulutnya langsung menancap erat dikepalaku. Indah sekali ketika dia menjelaskan posisi Allah sebagai Pencipta sekaligus Pengatur. Menarik sekali ketika dia menggambarkan keindahan surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang akrab dan mengikatkan diri dengan Sang Maha Raja, Allah. Damai sekali persaudaraan ini. Harus aku akui bahwa tidak pernah ku merasakan hal ini sebelumnya dengan siapapun. Nita benar-benar membuatku tergila-gila pada Islam. Keberanian mulai ku himpun untuk meyakinkan keluarga dan diri sendiri bahwa Tubuh ini harus ku hijabi segera dengan sempurna dengan sepasang jilbab dan khimar/kerudung. Penentangan tak bisa terelakkan. Mama dan keluarga besar menodongkan pilihan yang terlalu sulit bagiku. Jika aku berjilbab dan ikut pengajian maka aku harus melupakan bahwa aku memiliki keluarga. Aku adalah angka NOL yang terbuang. Sahabatku, guru-guruku, teman sekelasku kecuali Nita, mereka semua menentang bahkan mengunciku dalam pasungan pengucilan. Aku bersedia menukarkan nyawaku dengan apapun asal mama bahagia. Tapi... aku kini sadari bahwa tidak ada ketaatan mutlak kecuali pada Allah. Aku tidak menyalahkan mereka sepenuhnya. Karena mereka adalah korban dari sistem borokokok kapitalisme!. Aku tidak akan pernah melacurkan keyakinanku dengan apapun. Termasuk Mama. Aku harus mencari part-time job untuk bisa tetap hidup dan membela Islam, yang menjadi ideologi dan kebanggaanku.
*****
“Nita, temenin aku nemuin Santi yah?”
“Boleh. Kapan?”
“Ya lebih cepat lebih baik. Kalo hari ni aja gimana?”
“Kita ke kelasnya aja kalo gitu. Pasti sekarang lagi ngobrol ma Lulu cs di kelas. Yuuk!”
Nita benar. Dia ma temen-temennya lagi mojok sambil nyanyi bareng.
“San...!, bisa ngobrol bentar gak?, ada hal yang harus aku jelasin ke kamu. Tentang hubungan kita. Persahabatan kita San...”
“Penjelasan?, mo jelasin apa lagi?, persahabatan kita dah selesai. Lagian kamu kan dah punya dia sebagai sahabatmu yang dulu kamu bilangin bawel itu!”
“Plis, San!, jangan gitu dong. Aku kan sahabatmu!, jangan perlakuin aku kayak gini.”
“Napa?, sakit yah?, kaciaaan... tapi lebih sakit aku Rin!. Kamu dah ngianatin semuanya. Kamu tuh penghianat. Sori, aku ga mood bicara ma penghianat!. Permisi.”
“San...tunggu!, kamu banyak berubah.”
“Kamu yang berubah Arin!”
“Aku ga tahu jalan pikiranmu. Aku harus ngelakuin apa San, biar kamu mo tetap jadi sahabat aku?. Aku tuh sayang ma kamu”, aku tak kuasa lagi membendung cairan hangat untuk keluar menghantam jeruji mataku.
“Tinggalin semua gaya hidup kamu yang kampungan ini. Baju longgar yang jadul itu, kerudungmu, teman barumu ini (sambil melirik sinis ke arah Nita) dan juga semuanya!. Gimana?”
“Masya Allah San... itu gak...”
“Apa?, gak mungkin?. Ya udah. Itu berarti kamu dah nentuin pilihan. Nih aku kembaliin kalungnya. Photo aku dah aku keluarin dari situ. Selamat tinggal... Ayin!”
Hahh..Robbiy, persatukan kami di jalan-Mu. Aku menyayanginya karena-Mu. Maka dekatkanlah cahaya petunjuk-Mu padanya. Aku ingin bersamanya di jalan ini.
*****
Sudah setahun berjalan. Hari ini aku sudah 2 bulan duduk di kelas XI. Dan selama itu pula aku tidak pernah melihat Santi, belahan jiwaku. Aku merindukannya dengan sangat. Aku dengan cita-cita baruku yang semakin jelas terpampang di depan mataku. Memasyaratkan Islam dan meng-Islam-kan masyarakat disekolah.
“Assalamu’alaykum...”
“Wa’alaykumsalam. Nita?”
“Kok bengong. Mikirin proker Rohis yang mulai dihalangi ma guru-guru yah?”
Aku memilih diam. Itu salah satunya alasan yang membuat otakku terus berputar.
“Santi... kamu dimana?”, gumamku.
“Oia, ni da surat buat kamu. Aku tinggal dulu yah. Ga usah dibawa stress. Innallaha maa anti :-). Assalamualaykum...”
“Wa’alaykumsalam..”
Dear Ayinku sayang...
Ketika kamu membaca surat ini, aku sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik. Aku telah kehilangan banyak hal dari diriku. Dan yang paling utama adalah kamu Yin. Kamu yang dulu
selalu bersamaku dalam keadaan ups and downs. Kamu yang telah aku sakitin berkali-kali secara sengaja. Kamu yang dulunya selalu kuhapus airmatamu yang kemudian selalu ku tumpahkan dengan tanpa sedikitpun belas kasih. Yin, aku baru sadari bahwa kau terlalu berharga buat disakitin. Kamu terlalu istimewa. Kata maaf tidak akan sanggup menyelesaikan semuanya. Aku telah meninggalkanmu dengan cara yang menyakitkan hanya demi mereka yang mengaku sahabat. Tapi mereka tidak seperti kamu. Mereka tidak ada saat aku ingin mereka ada. Aku tidak peduli dengan ragaku yang menunjukkan kerapuhannya dari hari ke hari. Kanker hati Yin. Kata Nita, Allah sedang mengujiku dengan cara-Nya. Nita selama ini yang terus menghiburku dan menceritakan semuanya. Aku yang melarang Nita untuk bilang semua ini ke kamu. Kini aku juga punya cita-cita baru. Jika Allah memberiku sedikit saja kesempatan, maka aku akan bersama kalian berteriak lantang untuk menegakkan kebenaran Islam. Nita memang pandai untuk membuat orang jatuh cinta pada Islam. Aku mencintaimu Ayin-ku. Aku mencintaimu dengan segenap kemampuanku. Oia, tolong berikan kembali kalungnya yah, aku akan simpan kebali gambarku didalamnya. Jangan lupa yah.
Wassalam.
“Ya Allah... terimakasih Engkau telah mengabulkan doaku. Rangkullah dia. Persatukan kami dalam jalan dakwah yang penuh onak ini...”
Tak pelak lagi, luapan emosi tak mampu ku bendung. Aku bersorak, takbir sekeras-kerasnya sambil melompat. Tas yang menggantung di bahu kiriku putus karena harus menaham beban beratnya ditambah lagi dengan lompatan girangku. Aku tersadar saat semua isi tasku berhamburan. Teman-teman di sekeliling tersenyum geli. Aku tak peduli. Aku langsung memungut sesuatu yang sangat berharga. Kalung. Kalung hati yang pernah dikembaliin Santi. Yup!, akan ku kembalikan padanya. Hari ini juga. Hari ini juga ya Robb. Aku ingin segera menemuinya dan mendekapnya erat. Santiiii...!!!.
“Tuut...!, tuut...!”, Ha-pe bututku menghentikan sorakanku. Pesan dari Nita.
Aww. Rin, aku hrp kau tbah mdngar ni. Santi dah pergi menemui Sang Maha Perkasa.Dia dah lebih dulu mengakhiri semuanya. Isbit ya ukhti. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun.
Butiran bening di pipi ku biarkan mengalir begitu saja. Aku sama sekali tak ingin mempedulikannya. Ya Allah, kalau ini memang sudah keputusan-Mu, berilah keihklasan padaku untuk menerimanya. Maafkanlah ia ya Allah. Sahabatku yang telah banyak melupakan-Mu. Tapi Engkau maha mengetahui. Dia telah memiliki keinginan besar untuk berbalik ke agama-Mu yang agung dan mau memperjuangkannya. Kasihanilah dia ya Rahman.
Santi... kau di depanku kini. Kau terlihat begitu lemah tak berdaya. Wajahmu pucat pasih. Terlintas lagi semua kenangan indah kita. Apa kau juga begitu San?. Aku ingin melihat senyummu, wajahmu yang cemberut ketika ngambek karena permen kesayanganmu aku makan, dan segala tingkah jahilmu lagi. Aku merindukanmu Santi... sangat!. Tahukah kamu?.
Air mata yang berjatuhan ini, bukan karena aku sedih kau tinggalkan, tapi aku sedih kita tidak bisa bersama-sama untuk berjuang di jalan Allah. Sebagaimana cita-citamu jika Allah memberikan sedikit lagi kesempatan padamu. Tapi Allah terlalu tangguh untuk kita lawan. Maafkan aku San yang tega membiarkanmu... Kau tetap menjadi sahabatku yang sangat aku sayangi. Selamat jalan Santi...semoga Allah merangkulmu dengan segenap kasih sayang. Semoga!. Perjalanan panjang telah berakhir. Kau kini menungguku di pertigaan plang, antara Dunia, Surga dan Neraka.
[nahra] : kendari.
Tulisan ini ku persembahkan
untuk semua teman-teman yang
hingga saat ini masih
memperTuhankan hawa nafsu
dan dunia.
Thanks for inspiration..:-).
Jumat, 11 April 2008
Syndrom Putih Abu-Abu
Label: Cerpen
Diposting oleh obeyonline di 22.24 0 komentar
MENULIS ITU APA ?
Oleh: Divan Semesta
Menulis itu apa?.
Menulis adalah ekskresi: adalah mengeluarkan banyak khayalan yang ada di dalam diri, didalam angan supaya kondisi kita kembali normal adanya. Ini benar logh! Mari kita sederhanakan. Ekskresi muncul karena input. Kita makan maka keluarlah itu ampas melalui keringat, --melalui sesuatu yang saya tidak tega menyebutkannya. Ketika kita ditempa sekian banyak informasi yang datang, input itu mau kita apakan?. Dibiarkan menjejal dikepala?. Kalau sesudah makan kita nggak ekskresi, badan bakal jadi septictank yang berjalan. Kita pasti kesakitan.
Kalau kita sudah melahap informasi –atau dipaksa memakannya--, kejadiannya bakal sama. Pening kepala ini kalau tidak segera mengeluarkannya. Itulah mengapa saya bilang menulis itu ekskresi sebab menulis –bukan saja-- terkait dengan kesehatan tubuh melainkan –kesehatan-- mental juga.
Menulis bisa di analogikan dengan apa saja, --sekena yang kita mau. Kalau bermusik adalah seni melukis dengan nada, melukis adalah seni ekspresi menggunakan kanvas, maka menulis itu apa? Menulis itu merupakan seni melukis dengan kata. Melaluinya kita dapat mengekspresikan kegundah-gulanaan mengenai fenomena; mendeskripsikan khayalan-khayalan absurd didalamnya; dan merekonstruksi/membangun dunia yang ada di dalam benak manusia.
Dalam kaitannya dengan hal yang terakhir, seorang filsuf China pernah mengatakan bahwa, dengan menulis kita dapat menurunkan bulan yang ada di atas angkasa menuju dunia manusia.
Meski terlalu berlebihan, saya meng-akur-kan pernyatan filsuf itu.
Mudah-mudahan kamu mengerti tentang ini .
Nah setelah bicarakan perumpamaan menulis yang kurang serius. Sekarang saya akan memaparkan usaha menulis menurut pandangan saya pribadi.
Menulis itu apa?.
Bagi saya, menulis adalah usaha untuk masuk ke dalam. Menulis adalah memasuki jiwa untuk memecahkan misteri diri --kita-- selaku manusia. Menulis adalah kegiatan meneropong neumena (hikmah) yang ada dibalik fenomena. Ada sebuah cerita pendek mahsyur, yang bakal menjelaskan bagaimana kegiatan menulis dapat menjadi kegiatan meneropong neumena. Ceritanya begini:
Suatu saat seorang pemuda kebingungan mencari kunci di beranda rumahnya. Setelah sejam dua jam –pabaliut-- mencari dan tidak menemukan kunci, seseorang bertanya padanya.
“Dimana kau jatuhkan kunci itu?”
Sambil garuk-garuk giginya (?) si pemuda berkata, “Saya jatuhkan di dalam rumah.”
“Aneh-aneh saja kau ini!. Kalau terjatuh di dalam rumah kenapa mencarinya di beranda?”
Dengan mimik lugu, pemuda itu bilang.
“Abisnya di dalam gelap, sedangkan diluar terang!”
Cerita itu begitu membekas di dalam diri. Saya menganggap bahwa orang yang--yang menulis cerita tersebut—adalah manusia yang senantiasa meneropong pendalaman dirinya. Ia menemukan bahwa manusia selalu, mencari jawaban diluar jiwa. Manusia senantiasa takut untuk mengeksplorasi, padahal diri manusia kaya akan segala macam jawaban mengenai kehidupan. Manusia takut untuk ‘mengekskavasi’, padahal di dalam diri manusia terdapat penyembuh bagi kesakitan jiwa; padahal di dalam jiwa terdapat antibodi yang bakal menyembuhkan kegelisahan --yang jika dibiarkan dapat menyebabkan manusia jadi penghuni tetap ... rumah sakit jiwa.
Menulis berarti menguak berbagai macam penyadaran. Menulis berarti membedah dan menemukan diri menggunakan teropong neumena. Seandainya neumena ditemukan maka –penemuan-- itu akan memperkuat penghambaan diri seseorang pada-Allah-nya.
Dengan menulis saya –senantiasa--, berusaha --dalam dosa dan pahala-- untuk menghadirkan diri, sebaik-baiknya dihadapan Dia... dihadapan Allah selaku pemilik saya.
Menulis itu apa?.
Bagi saya, menulis adalah kegiatan melawan. Saat menulis dalam diri saya tumbuh kesadaran bahwa das sein tidak sesuai dengan das sollen, bahwa realita tidak sesuai dengan bayangan di dalam benak. Dengan menulis saya menyadari bahwa realitas sosial, tidak sesuai dengan kemanusiaan. Saya menyadari bahwa banyak anak manusia, mati karena negara tidak memberikan jaminan kehidupan untuknya. Saya menyadari bahwa banyak ketimpangan terjadi; menyadari bahwa banyak dari kalangan kita, yang dizalimi ... maka –disanalah-- menulis menjadi sebuah alat untuk mengembangbiakan ‘subversivisme’. Maka untuk itulah saya berharap, kalian mau menulis dan menjadikan realitas sosial sebagai pemantik untuk mengkabarkan kebobrokan dan penindasan sistemik yang nyata dan merajalela.
Ayo ...Jadikanlah tulisan sebagai lambang keterjijikan diri pada sistem bobrok yang menghegemoni ini. Ayo muntahkan!. Ayo ... Jadikanlah realitas sosial sebagai detonator jiwa. Ayo ledakan... sebab menulis adalah berkata-kata, sebab berkata-kata adalah: SENJATA!*.
Lantas, gimana jadi Penulis Hebat?
Nah, sekarang kita bicara bagaimana caranya jadi penulis hebat. Gimana caranya?, saya juga tidak tahu karena saya jarang merasa hebat. Lagipula hebat itu kan relatif. Kehebatan menurut kamu –mungkin-- berbeda dengan kehebatan saya.
Kamu --mungkin—menganggap bahwa penulis terhebat di Indonesia itu adalah Dee Supernova, Djenar Maesa, atau Helvy Tiana. Namun, bagi saya, penulis terhebat adalah Pramudya*. Itulah, mengapa –saat ini-- saya jadi kesulitan membuat tips untuk menjadi penulis hebat (karena saya merasa seperti Liliput di hadapan ke-Gulliveran-nya dia*.). Tapi baiklah, karena saya harus profesional mengisi acara ini, maka saya bisa berpura-pura, melakonkan diri jadi penulis hebat, dan kamu pun jangan lupa, untuk membayangkannya.
Bagaimana caranya menjadi penulis hebat?.
Hm ... saya bisa menyelesaikan bahasan ini hanya dengan satu kata, yakni, menulislah!.
“Ah, kamu mah nge-bete-in aja.”
“Lha mau gimana lagi?. Ya satu-satunya cara cuma begitu. Nulis itu kan sama aja dengan naek sepeda, berenang atau maen bilyar. Kalau mau bisa jadi penulis hebat praktek!. Jalani proses penulisan. Jangan menyerah.”
“Kalo jawabannya cuman gitu doang, saya jadi nyesel ngundang kamu!. Perasaan dalam pelatihan-pelatihan penulisan, sarannya nggak gitu doang deh. Jangan menyesatkan saya dong ah!”
“Ye, dibilang nggak percaya. Nih saya kasih tau. Begini ... meski kamu ikut pelatihan dua ribu kali sama Ustad Roy, kamu tetep nggak akan jadi penulis hebat, kalau kamu nggak menulis. Fungsi pelatihan penulisan itu sebenarnya bukan apa-apa selain memotivasi, supaya kamu mau nulis, dan mau menjalani proses untuk menjadi penulis hebat.”
“Perasaan nggak gitu-gitu amat. Seingat saya, kalau mau jadi penulis hebat, harus baca buku.”
“Nah itu tau, tapi apa baca buku itu menulis?. Baca buku ya baca buku!. Bukan menulis!.”
“Tapi, bukannya dari membaca, kita bisa dapat inspirasi..., dapet pemantik seperti yang kamu bilang diatas tadi.”
“O, nanya tentang inspirasi toh?. Okey saya kasih tau. Siap mendengarkan?.”
“Siap!.”
***
Banyak orang yang ingin menulis tetapi tak mendapat inpirasi. Dia menunggu-nunggu inspirasi seolah-olah inspirasi adalah bayi yang bakal jatuh dari paruh bangau. Tidak-tidak!. Jangan seperti itu, jangan menunggu, seolah-olah inspirasi akan datang langsung begitu saja. Undanglah inspirasi datang. Pancinglah dia!
Bagaimana cara memancingnya?.
Ada banyak cara, misalnya dengan jalan-jalan, nonton film atau membaca buku. Kita akan bahas satu persatu.
Jalan-jalan.
Kamu bisa melakukannya kemana saja. Misalkan melalui jalan yang jarang kamu lalui. Lihat keadaan, lihat pagar, lihat tukang surabi, lihat solokan yang kamu lewati. Nah, itu yang keuangannya pas-pasan --kayak saya. Kalau kamu punya uang banyak, kamu bisa pergi naek mobil ke daerah-daerah yang belum pernah kamu singgahi; tinggal di pedesaan dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang bakal membuat kamu fresh; pergi kepantai; naek gunung dan lain sebagainya.
Nonton Film.
Film ini benar-benar membantu, untuk mendatangkan sesuatu yang kita obrolkan. Mengenai film, saya pernah punya pengalaman pribadi. Suatu waktu –iseng--, saya menonton film India. Film itu mengkisahkan tentang cinta (standar), dan disana, ada dialog yang mengharuskan saya untuk menulis --karena saya terinspirasi.
Suatu saat Sanjay membuat Prita menangis. Prita masuk ke kamar dan mengurung diri selama berhari-hari. Karena keperihan yang dalam, saat disuruh orang tuanya makan ia selalu menolaknya.
Orang tua Prita khawatir kesehatan anaknya, maka diutuslah nenek yang sangat menyayangi Prita. Setelah mengetahui apa yang menyebakan tubuh Prita menjadi kurus, neneknya memberikan pertanyaan yang menyadarkan “jika hati terluka, mengapa justru perut, yang kau sakiti?.”
Jdak! Kalimat-kalimat itu mengiang-ngiang di kuping. Setelah selesai nonton, saya langsung menulis dan mengembangkan perkataan itu dalam bentuk essay.
Selanjutnya ...
Membaca buku
Kata seseorang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang kawan mengatakan demikian. Membaca adalah salah satu cara terbaik dalam mengembangkan imajinasi dan mendatangkan inspirasi. Jika kamu menonton, --kamu-- terlalu dimanjakan oleh visualisai sehingga benak kamu tidak terlalu memainkan imajinasi. Membaca itu berbeda, dengannya kita dapat membuat imajinasi yang tak terkira*.
Pokoknya, cobalah baca novel, ensiklopedia, atau kumpulan puisi, essay, dan cerpen. Jika bacaan itu bagus, saya yakin kamu bakal tersentak dan tiba-tiba ... inspirasi yang kamu tunggu-tunggu itu datang.
“Bang!?. Kalau inspirasi sudah datang, apa yang harus saya lakukan?.”
“Bang bang bang ... kamu yang bang, BANGKONG! (kodok) ”
“He..., he... :D. Gimana dong!?”
“Gimana apanya?.”
“Kamu ini kayak anak kecil yang maunya disuapin! Pokonya nulis! Nulis! Nulis! Dan nulis! Kalau udah dapet inspirasi nulis! Kalo belum dapet, undang itu inpirasi, terus nulis!”
“Kalau udah dapet inspirasi, harus segera ditulis ya bang?.”
“Ya jangan didiemin. Kalo dalam prinsip bisnis men, uang itu harus diputerin supaya nggak abis, nah ... inspirasi juga kayak gitu!. Kalau inspirasi nggak langsung ditulis, nanti jadi basi. Kalau udah basi rasanya nggak enak, jadi hambar!”
“Hambar kayak nasi goreng, yang kemaren abang masak itu ya?”
“Heu... terserah situ aja dah! Tapi gimana nih, udah dapet pointnya belum?”
“Lumayan!, pokonya kalau ada inspirasi langsung ditulis.”
“Nah begitu dong!. Sekarang dari obrolan ini, kamu dapet inspirasi nggak?”
“Dapet bang!”
“Kalau gitu langsung tulis... omong-omong inspirasinya tentang apa?”
“He... he... he ... jangan ah. Nanti marah!”
“Ye mau bikin penasaran ya?. Tentang nasi goreng ya?”
“Bukan!”
“Tentang apa atuh?”
“Tentang upil! ... upil yang nyempil di gigi abang!”
“Huarggggggggggh!”
Setelah mendapatkan inspirasi
Kemudian? menulislah.
Film Finding Forester mengajarkan bahwa di awal awal menulis kita harus melakukannya dengan hati. Setelahnya, baru gunakan fikiran.
Menulis dengan hati membuat penulisan kita lancar --tidak patah-patah (seperti tarian Annisa Bahar) sebab dalam menulisnya kita tidak menggunakan pikiran. Karenanya, wajarlah setelah tulisan selesai, kamu pasti akan menemukan tulisanmu yang tidak memiliki struktur. Hei! jangan dulu kecewa, karena --seperti halnya, sesuatu yang tertumpah-- kata-kata, --yang tertumpah-- bakal ada yang tidak klop dengan tema penulisan. Nggak apa-apa, jangan cemas, karena rata-rata penulis sekaliber apa pun pasti memiliki pengalaman seperti itu.
Setelah kata-kata mu tumpah, baru tulislah dengan fikiran. Edit tulisan kamu. Strukturkan! Kamu pilih-pilah kata, bolak-balikan susunannya sampai pas seperti yang kamu inginkan -- keinginan yang sekiranya sesuai dengan pemahaman pembaca yang bakal menilai kerja kamu. Setelah edit berulang kali. Selesailah itu tulisan. Lalu?
Sebarkan!.
Mengenai sebar menyebar tulisan ini juga bukan sesuatu yang mudah. Diawal penulisan kamu sudah harus mengetahui kalangan mana yang kamu bidik. Kamu sendiri udah tau kan, kalau secara alamiah, ketika ada sesuatu yang disuka, pastilah ada sesuatu yang tidak disuka. Kalau kamu menulis sesuatu yang berat, misalnya ideologi dengan bahasa yang ilmiah maka ‘jangan kasih’ itu tulisan ke orang-orang yang kurang faham mengenai bahasan yang menjelimetkan. Kecuali, kamu mampu membahasakan dengan baik, sesuai dengan --bahasa—kalangan, yang ingin kamu berikan --taruhlah ... pencerahan.
Maksudnya bagaimana?.
Begini, saya akan menuliskan pandangan mengenai ideologi.
Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, tetapi menurut Annabhani berbeda lagi. Ideologi merupakan sebuah pemahaman fundamental, pemahaman yang radic/mendasar, mengenai alam semesta manusia dan kehidupan. Yang dari landasan pemahaman itu, direkonstruksi way of life mengenai kehidupan.
Kalau saya bicara pada orang-orang kayak kamu, maka kita bisa nyambung, tanpa perlu menjelaskan lagi, mengenai ‘kesadaran palsu’, makna ‘fundamental’, ‘radic’, ‘rekonstruksi’ dan ‘way of life’. Tentang hal itu, kita sudah bisa connect satu sama lainnya. Tapi coba utarakan hal itu pada ibu-ibu yang suka jualan gado-gado dekat kosan kita. Wah, pasti sangat sulit untuk dipahaminya.
Oleh karenanya, saat melakukannya, kamu harus menulis tulisan yang sesuai dengan segmentasinya. Sesuaikanlah! Pas-kan-lah, supaya kata-kata kamu, supaya pemikiran kamu bisa segera dimamah biak dan dicerna.
Saat informasi --yang kamu sampaikan—sudah pas dengan segmentasinya kemudian massif dibaca ‘kalangannya’. Maka --lama-kelamaan-- kalangan itu, akan mengalami keinginan ekskresi seperti yang dulu pernah kamu rasakan. Mereka akan mengalami keinginan untuk memuntahkan, dan meledakan.
Menyambung dengan bahasan kita sebelumnya, --maka sejak saat tulisan itu dibaca-, kamu sudah berperan sebagai pengembangbiak ‘subversivisme dalam berfikir. Maka sejak saat itulah, kamu menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk menutup zaman yang usang, kemudian menggantikannya dengan zaman yang baru. Kalau pilihanmu adalah tidak ikut menggulingkan sebuah zaman, setidaknya menulis dapat menggantikan kamu yang padam, menjadi cahaya yang mampu menunjukan jalan pulang menuju rumah kediaman manusia yang sesungguhnya: jiwa!.
Label: Motivasi
Diposting oleh obeyonline di 22.20 0 komentar

