Kami akan terus bergerak, demi sebuah perubahan besar yang akan bergemuruh di muka bumi. Perubahan itu pasti. Pasti datang...

Jumat, 11 April 2008

Manusia bodoh

Kesalahan terbesar sekolah ialah mencoba mengajarkan segala hal kepada anak-anak dan menggunakan rasa takut sebagai motivasi dasarnya. [Stanley Kubrick]

Namanya Bejo Pramudia. Panggilan kerennya: Jo. Pagi-pagi buta kembali dia mengecek perlengkapannya. Dan syukurlah, dia tidak bangun kesiangan seperti hari-hari biasa. Dia masukkan selembar papan –mirip- tripleks yang sudah seminggu ini menjadi Primadona di toko alat tulis. Maklumlah, sedang musim ujian. Perhelatan akbar Ujian Akhir Nasional segera digelar.
^^^^****^^^^

Sekolah Jo yang rapuh…
Jo melongok ke arah jarum jam kulit di tangan kiri. Masih ada waktu 45 menit, pikirnya. Jo memilih berkeliling, pengen nongkrong dimana teman-teman biasa mangkal. Dia tercegat, dengan kerubungan manusia, kawan-kawan seangkatan, batinnya. Ada si Intan, anak borjuis, yang tukang pamer kekayaan. Melihat yang lainnya antusias, Jo terusik rasa penasaran.
“Pada ngapain sih, ni orang-orang?. Bawa apaan tuh si Intan, pake teriak-teriak lage?”, Tanya Jo pada Budi, rekan sejawat yang sama keparatnya seperti Jo.
“Basi lo !!, lo ngga tau ya, si Intan kan dapat wangsit. Yah, kayak contekan gitu deh. Udah, lo embat ajah. Anggap aja pertolongan ghaib. Catet gih sono kunci jawabannya. Ketinggalan nyaho lo”.
Dengan promosi jor-joran, akhirnya Jo manut dan keseleo untuk nyatet yang katanya ‘kunci jawaban’ Ujian. Dalam hati, ada tanda tanya besar.
TANDA TANYA ????
TANDA TANYA ????
TANDA TANYA ????

Ye,, kali aja si Intan bohong, atau di bo’ongin. Darimana dapat bocoran gini. Pertolongan ghaib seperti apa yang mampu membobol sebuah kepercayaan. Ahh…sudahlah!, pokoke cari selamat. Jo menuntaskan tanya dalam hatinya. Dia bergegas pergi, ingin berbagi kepada angin, atau bercakap-cakap dengan rumput basah yang harum tanah. Sekonyong-konyong, ada yang menepuk pundaknya.
”ooohhh….Dimas”, batinnya.
“Jo, elo dah nyatet kunci dari Intan?, gue lihat dong..”
Bibir monyong Dimas memohon. Jo tak kalah manyun dan menyerahkan kertas contekannya ke Dimas. Weits… apa gue kaga salah lihat tuh. Dimas kan juara kelas?!. Sejak kapan doi hobby sama dagelan ‘contek mencontek’ dan ‘gacok-menggacok’. Kurang pinter apa si Dimas itu?!. Kursus tiap hari. Blom lagi privat Less malam hari. Kerjanya juga baca buku mulu. Capek deh !!.
Teramat banyak keresahan di kepala Jo. Shit !!, tiba-tiba aja Jo ngerasa muak dengan semua ini. Jo memilih Jongkok santai di bawah pohon nangka belakang gedung sekolahan. Tempat anak kucing biasa buang hajat. Jo sempat mengendus bau tak enak. Wueekkkss !!. Diacuhkan olehnya. Pandangan Jo lurus, berpikir khidmat. Di tempat itu, dia berkomtemplasi dan merenung.
”Sebenarnya gue sekolah buat apaan seh??. Cuma buat dapet status ‘lulus’??. Kalo emang itu tujuannya, gue harusnya ngikutin jejak si Intan, cari ‘pertolongan Ghaib’, atau se-enggaknya, gue nyuap orang yang mempan di suap. Kalo orang-orang sekolah supaya pinter, kenapa si Dimas yang udah siang-malam belajar namun masih tergoda untuk nyatet ‘contekan’ gue. Kata orang, sekolah bakal nyetak manusia bertakwa, baek hati dan ilmunya tinggi. Tapi gue ngerasa janggal banget. Buktinya: banyak orang pinter tapi kerjanya jadi maling di negara sendiri. Eh…entar deh, gue salah ngga sih mikir kaya’ gini..konyol kah???”.
Lantaran merasa –agak- konyol, Jo berusaha mengosongkan pikiran-pikiran kritis yang menggelitik itu. Jo bangkit dan merutuk diri. Tambah kesal ia ketika sadar sepatunya ke injek e’ek kucing garong di tanah berpasir. Uuhhh !!.
Diliriknya jam tangan….
“sepuluh menit lagi”
*******^^^^^^*******
Suasana kelas ricuh sekaligus tegang. Dua hari ujian akbar yang mendebarkan. Bergeming horor, menyeruak TAKUT !.
Menyaksikan ketegangan ini, tak sabar Jo menyerocos.
“Napa sih lo semua pada horor gini??”, katanya.

“Klo gue gak lulus, gue takut dimarahin emak + bapak. Klo gue kepleset dikit aja dari target nilai, gue takut pacar gue malu sama gue. Bisa diputusin, buset !!. Belum lagi pak Jamil –pak Kepsek-, lo kan tau sendiri dia galaknya ngalah-ngalahin nagabonar, serem oi !”.
”Kepala sekolah juga takut anak didiknya banyak yang gagal ujian, karena pak kepala sekolah bisa dimarahin Pak Walikota. Karena Pak Walikota juga kudu jaga gengsi di hadapan Pak Gubernur. Nah,,, Pak Gubernur keder sama wartawan, jangan-jangan dituduh tidak becus mengurus propinsi. Berhubung banyak orang takut dengan sebuah kegagalan, maka lebih baik mengerahkan segala cara sebagai jurus selamat. Urusan halal-haram???, Baek-buruk??, Etis, ga etis???... nomor sekianlah… sometimes like that, heh!”.

Mendengar penjelasan itu, Jo mafhum ujung pangkal semua ini. Nalar yang gampang sekaligus miris. Jo teringat pada guru taman kanak-kanaknya. Dulu, dia diajarkan tentang KEBERANIAN, TAAT ATURAN dan CITA-CITA SETINGGI LANGIT. Tapi kenapa bumi yang dia huni kini, tak lagi menyisakan tawa dan keberanian itu??.
“Ternyata sekolah cuma ketakutan kacangan”.

SIAL !!
5 menit lagi, kuncup ketakutan peserta ujian akan matang. Memekar. Jo mengambil lipatan kecil-kecil hasil contekan pertolongan ghaib-nya Intan.
Cukup sudah!
Gue muak !
Di remasnya kertas itu. Ada kejutan ??!. Jo mengudarakan kertas itu ke tong sampah. Membuang segala TAKUT yang lebih membuatnya mual ketimbang mencerdaskan.

“Jo, kok lo buang tuh contekan. Jangan sok alim deh..”
:”dasar bego lo. Manusia bodoh!”.

“Biarin aja deh gue bodoh, yang pasti gue bukan pengecut. Kalau pun gue gagal trus ngulang taon depan, anggap aja gue terlalu sayang sama sekolahan sampe gue ga tega ninggalin sekolahan cepat-cepat”, katanya sembarangan.

Garing lo !
Yang lain memandang Jo penuh heran. Ga biasa-biasanya anak bengal satu ini ngomong filosofis
“Maap aja deh,, masa gini aja lo Tempe”, Jo tergugu menantang, namun hatinya lempang.



Ku coba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempasan ombak
( Ada Band, Manusia Bodoh )


By: -alga-
Harga diri bukan dilihat dari seringnya ANDA jatuh maupun GAGAL,
Tapi dilihat dari seberapa sering ANDA bangkit dari KETERPURUKAN.

Duka Ibunda

Kulihat airmatanya telah kering karena duka jiwa yang begitu dalam. Darah mengalir basahi raga karena luka begitu parah.
Kutanya padanya: "Ada apa gerangan?"
Dengan sisa-sisa tenaga dijawabnya:
"Apakah aku harus mati di tangan anak-anakku sendiri?, Anak-anak yang kulahirkan dari rahimku ini!!!. Mereka membiarkanku dicaci, diludahi, ditampar, diperkosa, dan tubuhku diseret dan disayat-sayat hingga darah tercecer mengalir dimana-mana, di Palestina, di Iraq, di Afghanistan, di Checnya, di Uzbekistan, di Kashmir, dan di berbagai belahan negeri!!!. Tapi anak-anakku hanya diam dan bahkan mereka rela menjadi para jongos musuh-musuhku itu, musuh-musuh mereka juga!!!. Padahal akulah yang melahirkan mereka, menyayangi, dan membesarkan mereka dengan kehangatan, dan kuberikan pakaian kejayaan, Khilafah Islamiyyah, pada mereka....."

Duhai ibunda, duhai Al-Islam, kan kukatakan pada anak-anakmu, kaum Muslimin:
"Bilakah kalian sadar?, Bunda kalian, Al-Islam, kini tengah dihina-dinakan oleh musuh-musuhnya, musuh-musuh kalian juga..... Apakah kalian rela bunda kalian ditelanjangi tanpa pakaian kejayaannya, Khilafah Islamiyyah, yang 13 abad memberikan kehangatan, kedamaian, kebesaran bagi kalian???. Pakaian yang juga pakaian kalian, yang kini sebenarnya kalianpun telanjang tanpanya..............tidakkah kalian malu???".

Duhai anak-anak Muslim, kembalilah pada ibunda kalian, Al-Islam, dan kenakan kembali pakaian kejayaan, Khilafah Islamiyyah, pada tubuh-tubuh kalian dan tubuh ibunda kalian hingga kejayaan dan kehangatan akan kembali pada kalian....

Rindukanlah itu.........
(4 all of myBrothers&SistersInISLAM:keep spirit tuk tegakkan
dinNya, kalo bukan Qt, anak-anak Islam, sapa lagi???).
[fr: abdillah_ana07@yahoo.co.id]

TAMAN-BUNGA

Jika ada yg berbicara tentang ,saya langsung teringat pada satu toko buku,lebih tepatnya sih perpustakaan di Jatinangor. Jatinangor….ah,kota kecil yg menyiratkan byk cerita.Menjadi satu tempat penuh makna yg rasanya sulit utk terhapus dr ingatan. Ketika saya main ke Jatinangor,saya sangat bersemangat mengHunting beberapa buku.Yang dlm pandangan hemat saya,sulit dicari di kota Medan.Seorang teman mengusulkan utk pergi ke .Sebagai pendatang,saya manut saja.Kaki ini dibimbing menapaki trotoar jalan Padjajaran memasuki etalase toko mulai dr sekedar lihat2 hingga borong buku gila2an.

Betis ini terasa pegal menyangga tubuh.Sembari menahan fatique asam laktat yg kian menuntut,pikiran saya melayang membayangkan yg blom juga kelihatan.
Ah…, pasti begitu penuh warna. Pikiran ini terus berfantasi sampai teman saya menyadarkan saya bhw kami sudah tiba di tempat tujuan.
……JREEENGG!!!!
“TEmpat apa ini…!!”, desis saya berbisik.
Pintu tempat itu tertutup, tidak ada tanda2 kehidupan. Bukan sekedar tidak ada kehidupan…yeah, tentu saja, ga ada taman bunganya. Tidak ada bunga terompet, melati, lidah buaya, rerumputan, harumnya bunga tahi ayam.
GA ada!!
Hanya ada sebuah kursi panjang –mungkin sbg ruang tunggu utk mns seperti saya-.
Di depan pintu tertulis TUTUP. Saya duduk di kursi itu. Sekedar melepas lelah dan jengah. Untuk kesekian kalinya, saya memandang keseliling. Beberapa buku di pajangkan di etalase toko. Om kumis ‘Che Guevara’ terpatri-ideologis di sudut kanan. Ada Filosofi Kopi-Dee. Saya tersenyum mengulas memory Rico de Coro dlm novel itu. Buku2 karangan Eko Prasetyo cukup menggiurkan utk saya nikmati siang ini. Dan beberapa buku kiri yg dlm pandangan saya cukup bagus utk reference.
‘Lebih baik aku cuma punya gubuk ketimbang tidak membaca buku’.
Seingat saya, begitu isi pamflet yg digantungkan di depan posisi duduk kala itu.
“Apa membaca membuat miskin..?!!”, Tanya saya sok kritis.teman saya angkat bahu.

…. Mana taman bunganya..
Rasa penasaran saya merasuk. Sekitar 30 menit saya duduk-tenang disana. Tetap setia menunggu barangkali tokonya terlambat dibuka krn sang empunya bangun kesiangan. But..arloji di tangan saya menunjukkan pukul 11 siang.Buset … kalo masih tidur!. Setelah hampir satu jam menunggu, saya pun nyerah.Satu harap saya … esok mereka lbh disiplin dari hari ini.dan mesti berpikir dua kali sebelum menamakan usaha seperti toko/perpustakaan/dan lainnya dgn pdhal ga ada taman bunganya.

Harus diakui..rasa penasaran saya belum terpuaskan. Kenapa namanya harus bukan yg lain.
Bukan toko buku serba-ada, atau juga toko buku-MILIK bersama.
Kenapa…kenapa…
Rasa itu terus saya simpan hingga raga ini meninggalkan Jatinangor tercinta…
Ahh…sesampainya di Medan, saya seakan mendapat penampakan dari filosofi itu.
Hmmm….

SEDIKIT ANALISIS
Mari saya ajak kamu ke wilayah pribadi saya yaitu pukul 23.00 atau 1 dini hari. Mari…saya welcome kali ini. Kamar saya –yg kata abang saya bisa main futsal di tempat tidur-memang penuh kejutan . Di atas meja belajar saya ada beberapa buku pinjaman dan koleksi pribadi, sekedar penghantar tidur. Dari perpustakaan kampus, saya meminjam buku hitam dgn tebal 466 halaman, berjudul ‘Aku Eks Tapol’.karya Hersri Setiawan .
Maka…
Saya seolah masuk ke jaman kegelapan Gelap untuk Para Pesakitan seperti pembesar Orde Baru. Konon, Para pesakitan ini seakan tertekan digerogoti penyakit Psikologis semacam Angst Psychose yaitu sejenis komunisto fobi, yg merasa tercekam dgn hal2 berbau komunis bahkan yg tak ada sangkutannya sama sekali.
Lalu…
Hiduplah seorang Suroto, tapol patugas dapur Tonwal, -dia ditugaskan membikin di halaman Wisma dan Unit. Suroto nurut saja. Toh bukan perkara besar. Mencangkul, membuat gulutan,mencari bibit…pokoknya seharian dibuat utk menggarap. Tiba2..lonceng apel berbunyi.WARNING!!.
Suroto dan teman2nya disuruh berkumpul. Semua staf unit dan Tonwal memandang suram para tapol. Tentu yg menyeamkan bukan hanya pandangannya tapi juga senjata yg bisa serta-merta meremukkan tubuh lisut mereka.
Suroto dipanggil maju, lalu ‘dikerjai’-‘seadanya’
‘Kamu tau salahmu, hah?’
‘Tidak!’jawAb Suroto.
Suroto kembali di bogem tak karuan. Merasa cukup puas, Suroto lalu dibawa ke bikinannya. Suroto disuruh mencari aibnya disana. Yeah….pokoknya alasan dia diberi pelajaran hari ini. Suroto tetap tidak mengerti.
‘Hitung gulutan itu ada berapa!’, bentak Mantri Tani, Gusgastan Unit.
Suroto mulai menghitung
‘Hmmm…tujuh pak.’
Mantri Tani murka: ‘nah,TUJUH!!’, kamu tau sekarang, apa itu bilangan tujuh’
Suroto dan 500 tapol lainnya membisu dlm ketidaktauan.
‘Tidak tau pak…’Suroto menjawab pasrah
Gagang bedil menghantam Suroto hingga Suroto terkapar. Beberapa tulang iga dan tulang punggung retak. Suroto cacat seumur hidup.
Untung saya bukan Suroto. Bisik saya dlm hati ketika membaca buku ‘Aku Eks Tapol’ ini.

Cerita kita lanjutkan….
Memangnya kenapa dgn angka TUJUH??!
Hayooo…kenapa coba?!.
Nah…ternyata bagi Angst Psychose, angka TUJUH begitu mencekam dan penuh konspirasi. TUJUH melambangkan pahlawan Revolusi, yaitu korban pertama peristiwa G30S 1965, begitulah menurut tafsiran logika Pembesar ORBA Kalau saya sih lebih teringat pada jaman es em pe dulu…maklum alumni es em pe TUJUH.

Yang menarik buat saya dan saya TERTARIK!!-----:
1. Angst Psychose
Betapa labilnya ‘sisi kemarahan’ org2 yg menderita penyakit ini. Kalau pembesar ORba terefleksikan pd komunifesto fobi. LAlu bagaimana dgn anda?, bagaimana dgn rekan sekitar kita?, bagaimana pembesar kita di Milinium ini?, bagaimanakah….
adakah terinfeksi virus serupa dgn modifikasinya. Anggaplah Perdana Menteri sekelas Tonny Blair atau Tuan Bush saya jadikan contoh…
Kalau boleh saya memberi nama, maka nama sindrom yg menjangkiti keduanya adalah semacam Islamo-R-Voution phobie yaitu suatu sindrom yg membuat para penderitanya begitu WasWas pada hal yg berbau Revolusi Putih dgn Islam.Islam Ideologis dan sejenisnya.alih-alih malah Islam itu sendiri.
Pantes aja PM Blair mengklaim ‘Islam-Ideologi’ sbg suatu Prinsip yg menyeRamkan/Ideologi Setan..
Saya rasa ini bukan satu klaim intelektual, melainkan suatu sepak terjang orang keSETANan Blair dan Bush emang rekan sejawat ini sadar betul bhw pemahaman Islam-Ideologis tertancap di setiap dada-kosongnya umat sedunia maka mereka akan mendapat pesaing yg berimbas keduanya hengkang dr daftar ORANG HEBAT.
Pesaing yg akan membuka kedok ‘pelecehan HAM umat sedunia’ atas invasi-politik and invasi-ekonomi menjadi terbongkar.
Pesaing yg menggagalkan misi AS utk ‘membutakan hati yg melek’.
PEsaing yg menghentikan ‘perang-saudara’yg sering dihembuskan AS&kroni2 dgn nafsu imperialisnya.
Waah…wah…ternyata Om Blair dan Tuan Bush takut bersaing ya.
Hai kawan….tidakkah mengasikkan sedikit menakut2i keduanya org macam mereka!!.

2. Yeah…satu kata ternyata begitu filosofis.
Mungkin akan selalu mengingatkan kita pada abnormalnya org2 yg dihantui rasa mencekam. Juga sekedar prihatin pada nasib yg menimpa seorang Suroto atas TUJUH gulutan yg dibuatnya di Jaman ORBA. Itu juga jika prediksi saya tidak meleset.PeRistiwa tak jauh pedihya dgn ‘lagu terlarang’ GENjer-Genjer. Satu lagi indikasi bagi penderita Angst Psychose.

OAAAAAHH….kenangan itu Harta yg Tak terbeli bukan?.
Saya Rindu pada Jatinangor….
Saya ingin kembali ke tempat itu dgn Filosofi yg akan lebih mengajak saya membelajari banyak hal.Hmm….tapi sungguh jauh lebih Rinduuuuuu…….akan Naungan BUNDA pd saya dan umat ini.
Satu Pengayom tempat berkeluh kesah. Bersikap Adil dan memanusiakan manusia. Pengayom yg telah dipancangkan oleh keGIGIHan RASUL dan Sahabat belasan Abad lalu. Saya harap saya Tak terlalu PEmimpi Sang Bunda akan Bersinar kembali. Menyapu Bid’ah, Penjajahan, Kemelaratan…yah..setidaknya MengEliminir oknum2 dgn Angst Psychose atau ISLAmo-R-Volution nya.

Buka TABIR harapan terINDAH kita
Karena manusia tanpa harapan rasanya HANYA se-onggok DAging yg hidup dgn tatapan kosong.
Mari wujudkan HArap Pinta itu…
Sebutlah nama NYA…Pinta PADANYA…
Karena setiap Do’a DIA kabulkan
Bismillah…

-alga-
jejak dlm suatu Konspirasi

TO: Ernest Lazzaro Slavindorchev,anda tak berhutang apa pun lagi, Saya hanya ingin anda menunggu atau mendongkrak saya menuju ‘And

Harun dan Mahluk dengan sebuah Misi

”Diperuntukkan untuk saudara kaum Muslimin yang mengharapkan hidup Mulia dalam NaunganNYA, dan merindukan Syahid dalam jeritan jiwa. Semoga kita termasuk golongan yang dimenangkan oleh ALLAH. Amin..., ya Rabb al-alamin.


“Hei kak, apa tidak sekarang saja?”.
”Tidak, jangan sekarang!, apa kau tidak lihat pemuda itu akan menyelesaikan raka’at tahajjud yang ke-8?!”.
“Memangnya kenapa?”.
“Huh!, dasar amatiran, di saat-saat begitu dia suka haus dan lapar tau?!, apa kau mau misi kita ketauan!”. Sang adik lagi-lagi menghembus nafas berat dengan ritme putus asa. Sedikit kecewa berada di posisi amatiran, seperti bunyi olok-olok sang kakak. Tapi, dia berbesar hati dan berbalik memfokuskan perhatian pada target sasaran mereka. Bagaimana pun dia adalah sosok terpilih oleh sang ratu. Sementara kebanyakan yang lain harus puas menjadi kelas pekerja di komunitas mereka.

Selama setahun ini, target sasaran mereka adalah si Harun. Pemuda kurus langsing yang memilih bunker pengap ini sebagai lahan perjuangan hidupnya. Sebenarnya bukan target sih, hanya saja, keberadaan si Harun menghalangi tujuan komunitas mereka.

“Apa kubilang, dia mengambil jatah kita. Iya kan, Sabil?”.
“Ya...”, kakak memanggilku Sabil.
Sabil!!. Entah sejak kapan aku akrab dipanggil begituan. Bisa jadi karena kakak sering memergoki si Harun bergumam ‘mujahid ya Fi Sabilillah’ ketika menyaksikan bayangannya di cermin retak yang tergantung di dinding.

Ya…, akulah Sabil. Tugasku cukup berat setelah temanku tewas di dimakan Rang-rang Pejantan dalam pagi yang memilukan. Setelah itu, akulah yang melanjutkan misi mengendap ini. Mengawasi Harun, memberi informasi pada komunitas lalu berpesta. Hmm, kasihan temanku itu, dia mati muda. Aahh, sudahlah!, bukankah tiap perjuangan mutlak ada pengorbanan?!.

Mengendap-endap, membangun kerajaan megah dengan seizinNYA, mengajarkan manusia macam si Harun, betapa hebatnya Tuhan kami; lalu memberi pelajaran agar manusia sadar akan kelemahannya. Sunguh, betapa tak berdayanya manusia sekalipun di hadapan makhluk seperti kami.

”Sudah yg ke-4”, kakak angkat bicara.
“Uuuhhh…..kenapa aku selalu kalah ’cerdas’ darinya?!”, kesalku.

“Apanya kak?”, tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaran walaupun sebenarnya malu.
“Si Harun itu, dia menuntaskan kalam Rabbnya untuk yang ke-empat kalinya setahun ini. Aku akan menjadi pembelanya di akhirat nanti”.
“Hmm, kau lihat matanya Sabil?!, mata yang sembab karena takut akan azab Tuhannya. Saksikan juga sudut bibirnya. Sudut penuh makna yang mengharapkan pertemuan terindah ketika ArsyNya dipersilakan baginya”.
”Ya kak, aku juga melihatnya dan aku pun akan menjadi saksi atas ketaatannya”.


Lama kami memperhatikan gerak-gerik si harun dari pagi-siang-malam lalu pagi lagi. Kadang-kadang kami kelelahan. Kami sadar, di penghujung malam seperti ini biasanya kami bisa mencuri kesempatan kala Harun tak lagi segarang singa di siang harinya. Justru mirip rahib yang senantiasa berkhalwat dengan Pencipta.

“Ah..., sial!”, pekik kakak kesal.
Tak pernah kusaksikan kakak sekesal itu sebelumnya. Aku tak banyak tanya. Dari posisi duduk menghadap kiblat, Harun bergegas menuju meja kerja yang diatasnya ada reward kami. Aku bisa memahami betapa kesalnya kakak tadi. Itu artinya, kami harus menunggu labih lama sampai si Harun beranjak dari tempat itu. Sementara ribuan kelas pekerja di sarang kami, sedang menunggu komando dari kami. Bersiap-siap menginvasi target. Cukup dengan 2 antena di kepala, yang kami andalkan.

”Ayolah Harun, cepat kau pergi dari Bunker yang pengap ini!”.
Harun merobek selembar kertas dan meraih sebatang pena usang lalu mulai menulis sambil terus bergumam apa yang dirangkaikannya disana.

“Assalamu’alaikum Warahmatullah”.
Dari bilik bawah tanah yang remang-remang ini, aku mendengar panggilan dari Kesatria Langit, dari Para Bidadari, dari anakku –Hasan- yang kuserahkan pada Rabbku.
Membayangkan kemudahan langkah atas wanita yang mengerti aku -Aisyah-,
merasakan rangkulan dari sahabat yang telah lebih dahulu meraih syahid.
Merindukan anak-anak tangga menuju RidhoNYA.
Telah tiba waktunya.
Mantap sudah segala rencana.
Telah ku-persiapkan generasi penerus Jihad.
Ku-asah sudah apa yang seharusnya.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Alam Nasyrah yang ku-hujamkan di aliran darahku.
Kujaga itu.
Aku pasrahkan bagian terpenting hidupku.
Jiwa!!.

Sakali lagi kawan,
Telah tiba waktunya.

Selamat datang Syahidku!!.

Wassalam
-Harun al Mustanir-

Pena diletakkan di atas kertas terbuka itu. Tangan harun dituntun menuju bilik kecil mengambil jas khususnya. Jas yang akan mengantarnya syahid. Syahid di tanah yang ditujunya. Tepi Barat!. Tanah yang dihinggapi burung-burung besi Israel-Zionis yang menjatuhkan bola-bola api kepada rakyat sipil yang tak berdosa. Harun menangkap photo wanita dan anak lelaki semata wayangnya. Tersenyum!.

“Aku datang sayang, tunggu aku ya!!”, Harun berkata dalam hatinya.

Harun bergegas keluar bunker dengan langkah penuh keyakinan. Sekilas mata Harun menangkap roti kismis di atas mejanya. Roti kismis harum yang masih sempat-sempatnya di kirimkan rekan-rekan pejuang untuknya selama penantian.

”Indahnya ikatan aqidah ini”, pikirnya.

Harun merobek roti kismis yang tinggal satu-satunya itu menjadi 2 bagian. Meninggalkan sebagian potongan yang lain.

”Rabb, jikalau aku sempat melahapnya hingga siang nanti, sungguh, itu umur yang lama sekali bagiku”, ia berkata seraya memasukkan sisa potongan yang satu lagi ke saku kanannya. Harun pun pergi. Bunker itu kini sunyi.

“Hei, kak!!, ini saatnya…”, sabil memberi kode melalui antena di kepalanya pada sang kakak.

Roti kismis, sebagai target sasaran diinilai aman. Informasi berantai di jalankan. Koloni semut, yang jadi teman-taman Sabil berdatangan. Sabil dianggap sukses menjalankan misinya. Semut-semut itu mondar-mandir di atas meja menuju sarang di balik Bunker.

”Sabil, misi kita sukses”, teriak sang kakak kepada sabil. Ternyata antena kakak lebih panjang dibanding Sabil. Pantas lebih ulet. Hmm, mungkin begitu.

”Ya kak, kita dapat panen dari hasil kerja keras kita. Huhuuiiiii…!!”.

“Selamat makan!!”.

Wassalam.
Alga [Medan].

Harun dan Mahluk dengan sebuah Misi

”Diperuntukkan untuk saudara kaum Muslimin yang mengharapkan hidup Mulia dalam NaunganNYA, dan merindukan Syahid dalam jeritan jiwa. Semoga kita termasuk golongan yang dimenangkan oleh ALLAH. Amin..., ya Rabb al-alamin.


“Hei kak, apa tidak sekarang saja?”.
”Tidak, jangan sekarang!, apa kau tidak lihat pemuda itu akan menyelesaikan raka’at tahajjud yang ke-8?!”.
“Memangnya kenapa?”.
“Huh!, dasar amatiran, di saat-saat begitu dia suka haus dan lapar tau?!, apa kau mau misi kita ketauan!”. Sang adik lagi-lagi menghembus nafas berat dengan ritme putus asa. Sedikit kecewa berada di posisi amatiran, seperti bunyi olok-olok sang kakak. Tapi, dia berbesar hati dan berbalik memfokuskan perhatian pada target sasaran mereka. Bagaimana pun dia adalah sosok terpilih oleh sang ratu. Sementara kebanyakan yang lain harus puas menjadi kelas pekerja di komunitas mereka.

Selama setahun ini, target sasaran mereka adalah si Harun. Pemuda kurus langsing yang memilih bunker pengap ini sebagai lahan perjuangan hidupnya. Sebenarnya bukan target sih, hanya saja, keberadaan si Harun menghalangi tujuan komunitas mereka.

“Apa kubilang, dia mengambil jatah kita. Iya kan, Sabil?”.
“Ya...”, kakak memanggilku Sabil.
Sabil!!. Entah sejak kapan aku akrab dipanggil begituan. Bisa jadi karena kakak sering memergoki si Harun bergumam ‘mujahid ya Fi Sabilillah’ ketika menyaksikan bayangannya di cermin retak yang tergantung di dinding.

Ya…, akulah Sabil. Tugasku cukup berat setelah temanku tewas di dimakan Rang-rang Pejantan dalam pagi yang memilukan. Setelah itu, akulah yang melanjutkan misi mengendap ini. Mengawasi Harun, memberi informasi pada komunitas lalu berpesta. Hmm, kasihan temanku itu, dia mati muda. Aahh, sudahlah!, bukankah tiap perjuangan mutlak ada pengorbanan?!.

Mengendap-endap, membangun kerajaan megah dengan seizinNYA, mengajarkan manusia macam si Harun, betapa hebatnya Tuhan kami; lalu memberi pelajaran agar manusia sadar akan kelemahannya. Sunguh, betapa tak berdayanya manusia sekalipun di hadapan makhluk seperti kami.

”Sudah yg ke-4”, kakak angkat bicara.
“Uuuhhh…..kenapa aku selalu kalah ’cerdas’ darinya?!”, kesalku.

“Apanya kak?”, tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaran walaupun sebenarnya malu.
“Si Harun itu, dia menuntaskan kalam Rabbnya untuk yang ke-empat kalinya setahun ini. Aku akan menjadi pembelanya di akhirat nanti”.
“Hmm, kau lihat matanya Sabil?!, mata yang sembab karena takut akan azab Tuhannya. Saksikan juga sudut bibirnya. Sudut penuh makna yang mengharapkan pertemuan terindah ketika ArsyNya dipersilakan baginya”.
”Ya kak, aku juga melihatnya dan aku pun akan menjadi saksi atas ketaatannya”.


Lama kami memperhatikan gerak-gerik si harun dari pagi-siang-malam lalu pagi lagi. Kadang-kadang kami kelelahan. Kami sadar, di penghujung malam seperti ini biasanya kami bisa mencuri kesempatan kala Harun tak lagi segarang singa di siang harinya. Justru mirip rahib yang senantiasa berkhalwat dengan Pencipta.

“Ah..., sial!”, pekik kakak kesal.
Tak pernah kusaksikan kakak sekesal itu sebelumnya. Aku tak banyak tanya. Dari posisi duduk menghadap kiblat, Harun bergegas menuju meja kerja yang diatasnya ada reward kami. Aku bisa memahami betapa kesalnya kakak tadi. Itu artinya, kami harus menunggu labih lama sampai si Harun beranjak dari tempat itu. Sementara ribuan kelas pekerja di sarang kami, sedang menunggu komando dari kami. Bersiap-siap menginvasi target. Cukup dengan 2 antena di kepala, yang kami andalkan.

”Ayolah Harun, cepat kau pergi dari Bunker yang pengap ini!”.
Harun merobek selembar kertas dan meraih sebatang pena usang lalu mulai menulis sambil terus bergumam apa yang dirangkaikannya disana.

“Assalamu’alaikum Warahmatullah”.
Dari bilik bawah tanah yang remang-remang ini, aku mendengar panggilan dari Kesatria Langit, dari Para Bidadari, dari anakku –Hasan- yang kuserahkan pada Rabbku.
Membayangkan kemudahan langkah atas wanita yang mengerti aku -Aisyah-,
merasakan rangkulan dari sahabat yang telah lebih dahulu meraih syahid.
Merindukan anak-anak tangga menuju RidhoNYA.
Telah tiba waktunya.
Mantap sudah segala rencana.
Telah ku-persiapkan generasi penerus Jihad.
Ku-asah sudah apa yang seharusnya.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Alam Nasyrah yang ku-hujamkan di aliran darahku.
Kujaga itu.
Aku pasrahkan bagian terpenting hidupku.
Jiwa!!.

Sakali lagi kawan,
Telah tiba waktunya.

Selamat datang Syahidku!!.

Wassalam
-Harun al Mustanir-

Pena diletakkan di atas kertas terbuka itu. Tangan harun dituntun menuju bilik kecil mengambil jas khususnya. Jas yang akan mengantarnya syahid. Syahid di tanah yang ditujunya. Tepi Barat!. Tanah yang dihinggapi burung-burung besi Israel-Zionis yang menjatuhkan bola-bola api kepada rakyat sipil yang tak berdosa. Harun menangkap photo wanita dan anak lelaki semata wayangnya. Tersenyum!.

“Aku datang sayang, tunggu aku ya!!”, Harun berkata dalam hatinya.

Harun bergegas keluar bunker dengan langkah penuh keyakinan. Sekilas mata Harun menangkap roti kismis di atas mejanya. Roti kismis harum yang masih sempat-sempatnya di kirimkan rekan-rekan pejuang untuknya selama penantian.

”Indahnya ikatan aqidah ini”, pikirnya.

Harun merobek roti kismis yang tinggal satu-satunya itu menjadi 2 bagian. Meninggalkan sebagian potongan yang lain.

”Rabb, jikalau aku sempat melahapnya hingga siang nanti, sungguh, itu umur yang lama sekali bagiku”, ia berkata seraya memasukkan sisa potongan yang satu lagi ke saku kanannya. Harun pun pergi. Bunker itu kini sunyi.

“Hei, kak!!, ini saatnya…”, sabil memberi kode melalui antena di kepalanya pada sang kakak.

Roti kismis, sebagai target sasaran diinilai aman. Informasi berantai di jalankan. Koloni semut, yang jadi teman-taman Sabil berdatangan. Sabil dianggap sukses menjalankan misinya. Semut-semut itu mondar-mandir di atas meja menuju sarang di balik Bunker.

”Sabil, misi kita sukses”, teriak sang kakak kepada sabil. Ternyata antena kakak lebih panjang dibanding Sabil. Pantas lebih ulet. Hmm, mungkin begitu.

”Ya kak, kita dapat panen dari hasil kerja keras kita. Huhuuiiiii…!!”.

“Selamat makan!!”.

Wassalam.
Alga [Medan].